Ekonomi

LEU MUI Solusi Problem Ekonomi Umat di Sulsel

Sosialisasi Program Kemitraan Desa di Islamic Centre Takalar
Sosialisasi Program Kemitraan Desa di Islamic Centre Takalar

TAKALAR - Kehadiran Lembaga Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (LEU MUI) merupakan jawaban konkrit yang di tunggu-tunggu umat. Karena umat saat Ini hanya sebagai obyek bukan sebagai pelaku.

"Ekonomi dikuasai segelintir orang sehingga kesenjangan ekonomi semakin jauh," ujar Pendiri Lembaga Ekonomi Umat MUI H. Sutrisno Lukito pada acara Sosialisasi Program Kemitraan Desa di Islamic Centre Takalar, Minggu (4/10).

Haji Sutrisno Lukito pengusaha yang memulai usaha dari zero Hingga menjadi pengusaha sukses mengatakan beliau hadir ke Takalar Sulsel bukan untuk berceramah atau seminar.

"Saya datang untuk mengajak umat di Sulsel khususnya Takalar bersatu, bergerak memajukan ekonomi umat di Sulawesi Selatan," ujar Sutrisno.

Untuk tahap awal, paparnya, LEU memulai dengan membantu warung tradisional di daerah pedesaan. Setelah warung tradisional kuat dan tumbuh Baru LEU akan melangkah ke Industri pembinaan umkm, pertanian, peternakan, kelautan, dan lain-lain.

"LEU tidak menggunakan Dana APBN/APBD sehingga diharapkan lahir pedagang pedagang yang memiliki sifat jujur, tanggung jawab, disiplin dan kerja keras agar pinjaman barang bisa di naikkan jumlahnya, kesejahteraan meningkat dan fasilitas pinjaman bisa di gunakan pemilik warung lainnya," tuturnya.

Dirut PT. Kunci Nusantara Cemerlang, M. Harry Naldi menjelaskan, program LEU seharusnya baru bisa dilaksanakan di Sulawesi Selatan awal tahun 2022, karena masih fokus di Pulau Jawa.

"Namun karena kehadiran Randy Andi Kasim cucu pahlawan nasional H. Pajonga Daeng Ngalle ke Kantor LEU di Grogol Jakarta Barat dengan penuh harapan ingin memajukan ekonomi masyarakat Sulsel sehingga managemen LEU memutuskan untuk datang ke Sulsel," ujar Harry Nald yang juga sebagai perusahaan marketing dan jaringan Lembaga Ekonomi Umat.

"Dan ternyata antusias masyarakat Sulawesi Selatan luar biasa bahkan sudah Ada 12 kabupaten/kota yang siap menjadi investor Dan pengelola Distribution Centre (DC) yaitu Makasar, Takalar, Sidrap, Gowa, Enrekang, Wajo, Luwu, Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng, Luwu, Palopo, tapi kita mulai dari 3 DC dulu di Makasar, Takalar dan Sidrap," jelas M. Harry Naldi yang juga tokoh aktivis PII, HMI dan ESQ pusat.

Salah satu peserta Daeng Ngunjung yang juga pengusaha grosir mengatakan LEU solusi problem ekonomi yang di kuasai kartel/Mafia sehingga para pelaku tidak bisa maju dan berkembang.

Menurutnya 3 kelebihan DC LEU MUI yaitu harga bersaing, barang order melalui aplikasi IT dan di antar sampai warung dan memberikan konsinyasi barang s.d 50% tanpa agunan dan tanpa riba. "Kami berharap program ini benar benar bisa segera di realisasikan di Sulsel," ucapnya.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Sirajudin Saraba mengatakan, kehadiran LEU bukan hanya membangkitkan ekonomi di Ritel & grosir, tapi juga memberikan solusi bagi kemajuan di sektor pertanian & kelautan. Dan program LEU ini sangat mendukung program kerja Bupati Takalar.

"Kami Dari pemerintah sangat berterimakasih kepada bapak Makmur Mustaqim Daeng Lewa yang sudah memfasilitasi kehadiran LEU MUI Pusat ke Takalar," ungkapnya.

Sosialisasi program LEU yang dihadiri sekira 200 koordinator warung yang terdiri dari bumdes dan koperasi difasilitasi oleh Makmur Mustaqim, SH., Daeng Lewa seorang politisi yang banting stir hijrah ke gerakan ekonomi umat.

Sebagai penutup Naldi menyampaikan motto pembangkit semangat perjuangan buat para PIC, DC Dan kordinator warung se Sulsel.

"Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai, Kuallengi Tallangi Natowalia," kata Pendiri Pergerakan Muballigh Indonesia.